teknologi informasi dan komunikasi

teknologi dan informasi dan komunikasi


power point

Advertisements

Leave a comment »

Tips Cerdas Mengajarkan Anak Dua Bahasa

Umur berapa sebaiknya mulai mengajarkan bahasa inggris kepada anak? Apabila ada 2 bahasa yang diajarkan, apakah dapat menghambat perkembangan bicaranya? Beberapa pertanyaan tersebut seringkali muncul dari orang tua yang berkeinginan (membekali) anaknya dapat lebih dini mengenal bahasa Inggris.

Perangsangan bahasa inggris atau bahasa asing lainnya dapat dilakukan sejak dini. Karena dalam 3 tahun pertama kehidupan manusia merupakan masa penyerapan terbesar terhadap stimulasi apapun. Jadi, tidak ada batasan umur untuk mengenalkan bahasa asing kepada anak. Agar keterampilan anak berbahasa asing lancar, berikut ini diuraikan beberapa tips mengenai hal tersebut:

1. Ciptakan suasana yang menyenangkan dan bebas dari paksaan agar memudahkan anak menguasai bahasa asing.

2. Penguasaan bahasa apapun akan optimal jika bahasa tersebut dipergunakan sehari-hari. Seorang anak akan menyerap kemampuan berbahasa asing jika banyak berlatih.

3. Jika putra-putri Anda sehari-hari diasuh oleh neneknya atau pengasuh yang berbahasa Indonesia, tidak akan menjadi halangan, asalkan ketika berjumpa dengan Anda dan pasangan, Anda berdua konsisten berkomunikasi dalam bahasa inggris bersama si kecil. Hal ini tentunya akan menguntungkan, karena putra Anda akan memperoleh perangsangan 2 bahasa sekaligus.

4. Tahap selanjutnya adalah memasukan/mengikutkan si kecil pada kursus pelatihan bahasa untuk usia dini. Usahakan untuk memilih pengajar yang berasal dari luar negeri (native speaker). Hal ini akan turut melatih keberanian si kecil, untuk berbicara atau setidaknya memulai pembicaraan dengan orang asing. Karena dalam berlatih bahasa asing, benar atau salah adalah nomor dua, yang pertama adalah keberanian untuk salah.

Leave a comment »

Tips Mengatasi Overactive Pada Anak Usia Dini

overactive atau banyak begerak, misalnya seperti memanjat-manjat, lari, koprol atau yang lainnya, ininya tida bisa diam. Buat anak hal semacam ini sangat menyenangkan. Mereka tidak terpikir pada risiko dan bahaya yang ditimbulkan. Sebenarnya anak banyak bergerak atau aktif adalah hal yang lumrah dan wajar. Faktor-fakor yang melatarbelakanginya adalah 1) Faktor Bawaan, 2) Faktor Fisik dan Motorik Yang Tengah Mengalami Perkembangan, 3) Faktor Kesenangan Bergerak, 4) Faktor Rasa Ingin Tahu, 5) Faktor Keinginan Meniru. Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua? Berikut ini Tips mengatasi overactive pada anak usia dini:

1. Jangan Banyak Melarang. Karena berisiko cedera maka wajar kalau orang tua punya rasa kawatir dan banyak melarang, bahka ada juga orang tua yang sudah mulai melarang ketika anak baru ancang-ancang. Melarang sebenarnya bisa berdampak pada 2 hal, yaitu pertama: anak menjadi punya ketakutan berlebihan hingga tidak berani melakukan aktivitas lain yang cukup menantang. Hal ini berakibat lebih jauh kepada dibayangi rasa bersalah dan takut gagal, yang akibatnya si anak menjadi tidak berani mencoba hal-hal baru. Dengan kata lain ia tumbuh menjadi anak yang pasif dan tidakpunya ide atau gagasa yang kreatif. Kedua: melakukan sembunyi-sembunyi atau di saat tidak dilihat orang tuanya, hal ini lebih berbahaya karena tanpa pengawasan.

2. Beri Peringatan. Daripada melarang lebih baik memberikan peringatan. Misalnya, “Kalau Adik manjat pagar, nanti kaki adik bisa terluka oleh besi runcing itu! Sakit kan?” Bila cara ini masih tidak mempan, coba alihkan perhatiannya dengan menawarkan aktivitas yang lain yang sama-sama menantang namun relatif lebih aman.

3. Beri Reward. Beri reward berupa puijan atau pelukan atas keberhasilan atau apa pun yang telah dilakukan si kecil dengan baik. Sebaliknya bila anak menemui kegagalan saat melakukan aktifitas tertentu, besarkan semangatnya agar mau bangkit lagi dan termotivasi untuk mencoba kembali.

4. Beri Kesempatan. Dengan memberi kesempatan pada si kecil untuk memanjat, selama tidak membahayakan dirinya sebenarnya memiliki manfaat besar. Minimal kehidupan emosionalnya jadi lebih baik, rasa percaya diri makin mantab. Karena anak jadi punya kebanggaan tersendiri bahwa dia mampu melakukan aktifitas lain.

5. Jangan Panik. Orang tua sering panik hingga berteriak ketika anak melakukan tindakan berbahaya seperti memanjat, lari atau koprol. Padahal, berteriak panik ketika anak sudah mulai berguling atau manjat justru hanya akan membuat anak panik. Teriakan orang tua bisa saja menyebabkan gerakannya jadi kaku/tidak terkontrol yang berakibat ia justru jatuh atau terkilir. Jadi coba sikapi dengan santai, kemudian sigap di sampingnya menjaga kemungkinan yang terjadi.

Leave a comment »

Gambar-gambar Alat Peraga

maket-musiq

cara Main :
Product name : Maket Musik
Ukuran :
Material : Polly wood, hard board

Harga :
Rp. 48.500

rambu-rambu

rambu-rambu1

Cara main :
Rambu-rambu 1 dan Rambu-rambu

Harga :
Rp. 45.000

puzel-tranfthumbnail

cara main:
Nama Produk : Puzzle Transportasi
Ukuran : 18 x 12 (cm)
Materi : Polly wood, Hard Board

Harga :
Rp. 8.000/pcsRp. 59.500/setisi 8 pcs

Leave a comment »

Macam-Macam Alat Peraga untuk TK dan APa yang Di ajarkan ke Anak TK

puzel-binatangthumbnail1

Cara Main :
Nama Produk : Puzzle binatang
Ukuran : 18 x 12 (cm)
Materi : Polly wood, Hard Board

Harga :
Rp. 8.000/pcsRp. 59.500/set

puzel-buahthumbnail

Cara Main :
Nama Produk : Buah-buahan
Ukuran : 18 x 12 (cm)
Materi : Polly wood, Hard Board

harga :
Rp. 8.000/pcsRp. 59.500/setisi 8 pcs

Sistem pendidikan yang dapat diterapkan dari gabungan metode Montessori dan Piaget adalah yaitu dalam satu kelas terdiri dari karakteristik kelompok usia yang sama dan ada satu anak khusus yang dibimbing secara khusus untuk mengikuti aktivitas harian yang dilaksanakan bersama-sama dengan siswa lain. Adapun aktivitas harian di dalam kelas yang dapat menunjang kreativitas anak berdasarkan tahap perkembangan anak dan karakteristik usia mencakup aspek fisik, emosi, kognitif, bahasa dan sosial.
Secara langsung perkembangan fisik seorang anak akan menentukan ketrampilan anak dalam bergerak sedangkan secara tidak langsung pertumbuhan dan perkembangan fisik akan mempengaruhi bagaimana anak memandang dirinya sendiri dan bagaimana dia memandang orang lain. Perkembangan fisik erat kaitannya dengan perkembangan motorik yaitu perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkoordinasi. Sumbangan perkembangan motorik diantaranya yaitu: kesehatan yang baik, katarsis emosional, kemandirian, hiburan diri, sosialisasi, konsep diri.
Kemampuan motorik diantaranya:

· Motorik Kasar yaitu gerakan yang dilakukan oleh otot-otot besar, aktivitas yang dilakukan seperti:

– berjalan lurus, berjalan mengikuti pola berliku, berjalan menyamping, berlari lurus, berlari mengikuti pola berliku → pendidik menyediakan fasilitas jalur lurus / berliku di lantai.

– melompat dengan dua kaki, melompati rintangan → pendidik menyediakan tali skipping.

– menaiki tangga, menuruni tangga, bergantung dengan dua tangan dan satu tangan, berayun dengan satu dan dua tangan → menyediakan playground dimana terdapat tangganya, papan luncur, palang.

– Menendang, mendorong bola, menarik, mendorong benda dengan jari tangan / telapak kaki → pendidik menyediakan bola dan barbel / benda.

· Motorik Halus adalah gerakan yang dilakukan oleh otot-otot kecil, aktivitas yang dilakukan seperti:

– menggunting, menempel, meronce, merobek → alat yang disediakan berupa gunting, kertas, lem.

– menyusun balok menjadi suatu bentuk yang representatif → sediakan balok-balok kontruksi yang terbuat dari kayu / plastik / spon / karet dengan berbagai ukuran bentuk dan warna (constuctive material).

– menggambar, mewarnai, menulis → sediakan pinsil, crayon, cat warna (liquid material)

– membuat tali simpul → bisa dengan latihan mengikat tali sepatu sendiri

Aspek Kognisi

Perkembangan kognisi anak datang melalui gerakan. Proses belajar mempunyai tiga bagian: otak, indera dan otot, dimana ketiganya saling bekerjasama dalam pembelajaran. Perkembangan kognisi meliputi perkembangan kemampuan untuk menalar, mengingat, merencanakan sesuatu hal dan memecahkan masalah Pada usia pra sekolah, anak diharapkan menguasai berbagai konsep seperti warna,ukuran, bentuk, arah, posisi, besaran sebagai landasan untuk belajar menulis, bahasa, matematika dan ilmu pengetahuan lain. Kegiatannya dapat berupa pengenalan, mengurutkan, mengelompokkan.

· Identifikasi, aktivitas harian yang dapat dilakukan seperti:

– pengenalan aroma → bahan-bahan yang disediakan misalnya: sabun, sagu, terasi, dan sebagainya.

– pengenalan rasa → bahan yang disediakan misalnya: asam, kopi, kecap, gula, garam, dan sebagainya.

– pengenalan bunyi nyaring, lemah → benda dapat berupa kaleng, gelas plastik, gelas melamin.

· Klasifikasi, aktivitas yang dilakukan seperti:

– mengelompokkan benda berdasarkan aroma, rasa, bunyi → bahan-bahan ynag digunakan sama seperti identifikasi.

· Seriasi, aktivitas yang dilakukan seperti:

– mengurutkan benda berdasarkan ukurannya (panjang–pendek, besar–kecil, banyak-sedikit), bentuknya (zig zag, lurus, bergelombang) → bahan-bahan yang disediakan misalnya gambar rumah yang besar dan kecil, kartu yang terdapat pola bentuk zig zag, lurus dan bergelombang.

· Angka, aktivitas yang dilakukan seperti:

– eksplorasi konsep & simbol angka (0-5, 6-10, 11-15, 15-20) → sediakan kartu-kartu angka, soal metematika (penjumlahan dan pengurangan).

– mengenal dan menulis angka → alat yang disediakan misalnya kartu-kartu angka yang dipasang di dinding kelas.

· Posisi Ruang, aktivitas yang digunakan seperti:

– eksplorasi konsep isi-kosong, atas-bawah, depan-belakang, kanan-kiri → sediakan benda yang diletakkan menurut posisi yang dimaksud.

· Waktu, aktivitas yang dilakukan seperti:

– eksplorasi konsep pagi-siang-sore-malam → mengucapkan salam berdasarkan waktu.

– eksplorasi konsep hari → seragam yang dipakai siswa dibedakan berdasarkan hari, bercerita di depan kelas mengenai perasaannya berdasarkan waktu.

· Pemecahan Masalah, aktivitas harian yang dapat dilakukan seperti:

– membuat pola, mencocokkan gambar → sediakan kertas bergambar dengan pola geometris dan meminta anak untuk menirukan pola tersebut, lalu meminta anak untuk mencocokkan gambar.

– Bertanya dengan menggunakan kata tanya “apa” dan “mengapa” untuk mendapatkan jawaban.

Aspek Emosi

Perkembangan emosi dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak, diantaranya: ketegangan emosi dapat mengganggu keterampilan motorik yang mengakibatkan anak menjadi canggung dan dapat menyebabkan timbulnya gangguan bicara seperti menggagap, dan juga dapat mempengaruhi interaksi sosial dimana melalui emosi anak belajar cara mengubah perilaku agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan ukuran sosial. Dengan demikian perkembangan emosi perlu dilatih untuk kecerdasan emosinya.

· Aktivitas harian yang dapat dilakukan di dalam kelas diantaranya:

– menunggu giliran bermain

– meminta maaf jika melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

– mengatakan tolong jika membutuhkan bantuan.

– mengerjakan tugasnya secara mandiri

Aspek Bahasa

Kemampuan menggunakan bahasa dan berbicara merupakan peran utama yang penting dalam perkembangan intelektual. Kemampuan berbicara memenuhi kebutuhan penting lainnya dalam kehidupan anak, yakni kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok sosial. Karena mampu menjelaskan kebutuhan dan keinginan anak kepada orang lain, maka kemampuan berbicara dapat meniadakan rasa putus asa yang diakibatakan ketidakpahaman orang lain akan keinginan anak. Selain itu dengan berbicara, anak dapat mengungkapkan perasaan mereka dan dapat bercerita mengenai komentar orang lain apakah kesan orang lain menyenangkan atau tidak terhadap dirinya. Hal ini dapat membentuk dasar bagi penilaian diri. Anak dapat belajar bahasa dengan cara meniru, mendengar, berbicara, dorongan berupa pujian, kesempatan untuk melakukan komunikasi.

· Aktivitas harian dalam kelas yang dapat dilakukan seperti:

– mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

– mampu menjelaskan ciri dari berbagai benda atau peristiwa.

– mendengarkan cerita

– menginterpretasikan gambar yang dibuat

– menyanyikan lagu-lagu

Aspek Sosial

Untuk menentukan sejauh mana penyesuaian diri anak secara sosial dapat diterapkan empat kriteria yaitu:

– Penampilan nyata. Bila perilaku sosial anak seperti yang dinilai berdasarkan standar kelompoknya, memenuhi harapan kelompok, dia akan menjadi anggota yang diterima kelompok

– Penyesuaian diri terhadap berbagai kelompok. Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap berbagai kelompok, baik kelompok teman sebaya maupun kelompok orang dewasa,secarasosial dianggap sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik.

– Sikap sosial. Anak harus menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, terhadappartisipasi sosial dan terhadap perannya dalam kelompok sosial, bila ingin dinilai sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik secara sosial.

– Kepuasan pribadi. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik secara sosial anak harus merasa puas terhadap kontak sosialnya dan terhadap peran yang dimainkannya dalam situasi sosial, baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota.

Perkembangan sosial dapat diartikan juga perkembangan yang menyangkut bagaimana anak yang berada pada usia yang berbeda berhubungan dengan orang lain dalam arti kemampuan untuk berkomunikasi, meyesuaikan diri, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain.

· Aktivitas harian yang dapat dilakukan di dalam kelas seperti:

– bermain peran → menyediakan beranekaragam pakaian profesi (dokter, polisi, pemadam kebakaran, dan sebagainya), alat-alat musik, boneka dan replika perlengkapan bayi, replika perlengkapan rumah, dan lain-lain.

– permainan kelompok (misalnya bermain ular tnagga, mengumpulkan daun-daunan, batu-batuan)

– kunjungan ke rumah teman sekelas

– kunjungan ke tempat lain misal ke restoran, wisata, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Tedjasaputra, M. 2001. Bermain, Mainan dan Permainan. Jakarta: PT. Grasindo

Hurlock, E. 1990. Perkembangan Anak. Jilid 2. Jakarta: penerbit Erlangga

Leave a comment »

Me

venty

venty

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »